Kehidupan Global Menurut Faham Pancasila dan Cara Menyikapi Ajaran atau Faham yang bertentangan dengan Nilai Agama dan Pancasila

Dalam kaitan dengan kehidupan global antar bangsa padanan dari fenomen-fenomen yang merakit diri dalam MEAS adalah kehidupan global antar bangsa yang saling tergantung selaku subyek yang berinteraksi saling memberi berdasarkan dengan tesis ontologik pertama dari MEAS yang mengajarkan bahwa : “Dalam alam semesta, tidak ada sebuah fenomenpun yang mandiri berdiri sendiri terlepas dari fenomena lain”. Hukum-hukum yang terdapat didalam MEAS seperti antara lain tercermin oleh tiga tesis ontologik tersebut dimuka, bersifat imperatif bagi segenap umat manusia, termasuk pengelompokan manusia yang berwujud negara – kebangsaan.

Berdasarkan tesis ontologik , berpendapat bahwa : (1) Pemerintah dunia yang terpusat dan bersifat otoritarian, memang seyogyanya tidak diwujudkan, karena konsep itu mengandung konsekuensi – logik terhapusnya kedaulatan yang ada pada negara kebangsaan (Konsep “Word Order” sejenis ini, sebelumnya telah diajukan oleh Thomas Hobbes dengan “Negara Laviahan” nya dan oleh muritnya yaitu Roymon aron dengan konsepnya ia namai “Wold Imperium”).

Kedaulatan Maksimum Tetapi Saling -Tergantung. “Kemerdekaan” yang merupakan salah satu dasar dari faham Indonesia mengenai “ketertiban dunia” (seperti yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945: “….. ikut melaksanakan keteriban dunia yang didasarkan pada kemerdekaan, perdaimaian abadi dan keadilan sosial”), disatu fihak mengandung faham kedaulatan maksimum, namun dilain fihak, adanya relasi alami saling – tergantung antar negara, maka terpeliharanya kondisi kedaulatan-maksimum termaksud, sampai tingkat tertentu tergantung pada terlaksananya kewajiban memberi dari negara atau sejumlah negara lain yang bertautan dengannya. Dengan kata lain, kedaulatan-maksimum yang dimiliki oleh tiap negara, adanya kalanya dalam interaksi tertentu dengan negara lain, menjadi “terkurangi”, namun “pengurangan” itu terjadi sebagai akibat dari perbuatannya sendiri, yaitu melaksanakan kewajiban memberi sesuatu kepada negara lain demi terpeliharanya sesuatu keseluruhan yang lebih tinggi nilainya, yaitu terpeliharanya kebersamaan hidup antar negara yang identik terpeliharanya kondisi ketertiban dunia.

Dalam kondisi kehidupan global yang terwujud berkat terselenggaranya interaksi saling-memberi antar negara tersebut diatas, terkuranginya kadar kedaulatannya, oleh para negara-kebangsaan tidak dirasakan sebagai beban yang ditimpakan kepadanya oleh kekuasaan duniawi buatan manusia, melainkan disadarinya sebagai hal yang alami dan karenanya tak terelakan demi terpeliharanya ketertiban dunia yang eksistensi dirinya bergantung padanya.

Dengan demikian, kedaulatan – maksimum yang oleh polemologi versi Barat dinilai sebagai hambatan yang mendasar terhadap terbentuknya “Wold Order” seperti antara lain yang dikemukakan oleh starke, telah terjawab oleh faham Ketertban Dunia yaitu bersifat integralistik yang dianut oleh bangsa Indonesia.

Pergaulan Internasional. Kehidupan masyarakakat menjadi bersifat individual, begitu pula mutates mutadis kehidupan antar bangsa dalam pergaulan internasional. Segenap subyek kehidupan, mulai dari manusia, masyarakat bangsa, sampai negara, dalam interaksinya didorong oleh kepentingan diri manusia, tak mengakui lagi adanya relasi-alami saling tergantungan antar subyek selama masa dua abad sejak terjadinya revolusi industri hingga menjelang akhir abad XX.

Peradabatan modern individualistik yang telah berlangsung selama dua abad ini, yang mencapai kualitas optimal formatnya sebagai peradaban era globalisasi, oleh teknologi informasi secara paradoxal di transformasi kembali menjadi peradaban yang berstruktur saling tergantungan alami antar manusia, antar bangsa, antar bangsa.

Orientasi global dan saling-tergantungan “I” terakhir temuan Ohmae adalah konsumen individual, tesis yang terkandung di dalam arus “I” ini adalah pada konsumen individual juga telah menjadi lebih global orientasinya. Melalui akses yang lebih baik ke informasi tentang gaya hidup di seputar jagad, makin menghendaki produk yang terbaik dan termurah, tidak peduli dari mana asalnya (Ohmae 1995 :40.)

Para pendiri Republik menyadari signifikansi visi tertuang dalam sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Bahwa martabat manusia merupakan fondasi semua nilai moral dasar Pancasila. Prioritas negara berdasarkan Pancasila semestinya meningkatkan deminsi kemanusiaan rakyatnya. Sila kemanusiaan memanyungi sila kebangsaan agar nasionalisme tidak membuahkan pemerintahan dan rakyat yang diskriminatif berdasarkan ras atau etnis. Rasialisme dalam segala bentuk harus diakhiri karena melahirkan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Jadi, nilai-nilai universal yang dibawa arus globalisasi saat ini sebenarnya tak lebih nilai-nilai Pancasila dalam artian yang luas. Cakupan dan muatan globalisasi telah ada dalam Pancasila. Karena itu, mempertentangkan ideologi Pancasila dengan ideologi atau faham lain tak lebih dari sekedar kesiaan belaka. Selain itu, selama masih terjadi pergulatan pada faham dan pandangan hidup, bangsa dan rakyat Indonesia akan terus berada dalam kekacauan berpikir dan sikap hidup. Menggantikan Pancasila sebagai dasar negara tidak mungkin karena faham lain tidak akan mendapat dukungan bangsa dan rakyat Indonesia. Pancasila dapat ditetapkan sebagai dasar negara karena sistem nilainya mengakomodasi semua pandangan hidup dunia internasional tanpa mengorbankan kepribadian bangsa Indonesia.

Ideologi Pancasila, sekali lagi, bukan berdasarkan atas faham liberalisme ataupun sosialisme-komunisme, serta bukan hasil kawinannya keduanya. Dalam Pancasila terkandung nilai-nilai universal yang berlaku bagi semua bangsa di dunia. Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung makna bahwa pada umumnya manusia Indonesia bertuhan sesuai dengan agama yang dianutnya. Semua agama mengajarkan bahwa alam semesta beserta segenap hal yang eksis didalamnya, yang tak terhingga jumlahnya, adalah ciptaan Tuhan. Untuk selanjudnya, tiap hal yang eksis dalam alam semesta saya lekati sebutan “fenomen”. Dalam alam semesta ada fenomen yang permanen dan ada yang durasi eksistensinya terbatas. Dalam pengertian ruang-waktu yang terbentang sekaligus berlangsung tak terhingga dalam alam semesta, setiap fenomen niscaya mengokupsi volume ruang tertentu dan sekaligus mengokupsi selama eksistensinya.

Konsep MEAS yang terkandung di dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengungkapkan pengetahuan yang berkualitas sebagai tesis-ontologik pada nalar kita. Ada tiga tesis ontologik terungkap dari MEAS, yaitu :

1. Dalam alam semesta, tidak ada satu fenomenpun yang mandiri berdiri sendiri, terlepas dari fenomen lain.

2. Ada itu memberi; sama benarnya dengan pernyataan “tidak ada itu tidak memberi” memang sesuatu yang tidak ada tidak mungkin memberi. Jadi, “ada itu memberi” adalah evidensi.

3. Suatu pendapat adalah benar, hanya apabila ia bersesuaian dengan segenap relasi yang berkaitan dengannya; apabila tidak, maka ia nir-benar.

Sesungguhnya, tesis pertama dan tesis kedua adalah sekedar usaha pembedaan dua aspek dari satu tesis yang utuh dan tunggal. Tesis tunggal itu berkatogori sebagai teori tentang eksistensi (the theory of existence). Dalam hal ini : eksistensi dari semua hal yang ada dalam alam-semesta adalah berkat adanya relasi antarpasangan fenomen yang ekuivalen satu sama lain; dan relasi itu dalam wujudnya sebagai interaksi antarpasangan fenomen yang beralasi saling-tergantung, niscaya berkualitas tipikal saling-memberi.

MEAS yang menunjuk adanya relasi saling tergantung antar pasangan fenomen yang ekuivalen satu dengan yang lain, yang melalui proses interaksi saling-memberi yang berlangsung tak terhingga dalam ruang-waktu yang tak terhingga, membentuk alam semesta, diungkapkan oleh Tesis Ontologik Pertama sebagai teori tentang eksistensi (the theory of existence); berkualitas saling-memberi, diungkapkan oleh Tesis Ontologik Kedua, sebagai teori tentang “ada’ (the theory of being); Tesis Ontologik ketiga menunjuk pada teori tentang kebenaran (the theory of trutb), teralir berturut-turut secara transitif dari tesis ontologik pertama dan kedua.

Tiga tesis ontogik ini, seperti yang akan kita ketahui bersamaam waktu dengan kefahaman kita mengenai serba konsep yang terkandung di dalam empat sila lainnya dari Pancasila, berfungsi sebagai “principles we judge by” (meminjam ungkapan dari J.D. Mortimer, dalam bukunya Six Great ideas, Macmillan Publishing Co. INC, New York, 1981). Untuk mengetahui ada tidaknya relasi mantik antar konsep yang terkandung dalam tiap sila dan antar konsep antar sila. Pancasila sebagai suatu sistem filsafat, seharusnya relasi mantik itu ada dalam dirinya. Apabila terbukti benar demikian, maka Tiga Tesis Ontologik ini adalah konsep-raya ontologik (Padanan dari the grand ontological concept) yang terkandung di dalam Pancasila dalam kualitasnya sebagai filsafat.

Misalnya, bukankah semua umat manusia di dunia mengakui adanya Tuhan sebagai kekuatan supranatural yang berada di luar jangkauan kekuatan manusia? Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, semua persoalan umat manusia di dunia yang menyangkut persamaan hak dan kewajiban baik antar pribadi, hubungan antara warga negara dengan negara maupun hubungan antar negara. Faham atau lonsep mengenai manusia ini, mengandung makna ontologik bahwa antar manusia terjalin oleh relasi saling tergantung. Relasi saling-tergantung antarsubyek ini mengungkapkan sendiri kepada nalar manusia bahwa interaksi antarpasangan manusia yang berelasi ekuivalensi demikian juga antarpasangan fenomen jenis yang manapun niscaya berkualitas tipikal : saling-memberi. Interaksi saling-memberi ini menunjukan pada faham yang presuppased ada dan mendahuluinya, yaitu : tugas hidup manusia adalah apriori memberi kepada lingkungan.

Hanya manusia selaku pelaku-sadar yang mampu aktif berprakarsa melaksanakan kewajiban memberi kepada lingkungan. Berkenaan dengan itu, makna dari ungkapan “yang adil” dalam kaitannya dengan “yang beradab” adalah : hanya manusia-subyek yang melaksanakan kewajiban memberi kepada lingkungannya saja yang sewajarnya mendapatkan hak, sebagai menifestasi dari hakekat manusia selaku makhluk individu. Sebaliknya manusia yang tidak melaksanakan kewajiban memberi kepada lingkungan, sesuai dengan Tesis Ontologik II, ia menghapus dirinya sebagai subyek, hapus kualitasnya sebagai subyek penerima hak.

Fungsi dari interaksi antara kewajiban dan hak antarpasangan subyek jamak adalah kondisi keadilan dalam arti luas bagi para subyeknya. Tergantung pada haluan yang terkandung di dalam koordinat-organik yang bersangkutan. Makna dari ungkapan “yang beradab” dalam kaitannya dengan “yang adli” adalah : bahwa keadilan itu intersubyektif, yaitu subyeknya jamak, sebagai manifestasi dari hakekat manusia sebagai makhluk sosial.

Sila ketiga, persatuan Indonesia, Pada waktu kita kita menemukan konsep MEAS yang terkandung di dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa, kita temukan pula di dalam sub-konsep rakitan-organik yang integral. Rakitan inilah yang dipahamkan sebagai fenomen yang bersosok persatuan. Persatuan antara sejumlah fenomen yang berelasi ekuivalensi yang terbentuk oleh interaksi saling-memberi antarmereka. Persatuannya mengatualkan diri sebagai jenjang baru yang berperilaku sesuai dengan relasi kendali asimetrik yang diembannya, yang berfungsi terpeliharanya kelangsungan interaksi saling-memberi antarfenomen pembentuk dirinya.

Dari realitas alami yang berlangsung dalam alam semesta ini, kita mendapat pengetahuan yang berkualitas dengan konsep ontologik tentang kebersamaan hidup antarmanusia beserta lingkungan; baik yang mengaktualkan diri sebagai kehidupan bermasyarakat maupun kehidupan bernegara, yaitu ; (1) persatuan itu tercipta oleh interaksi saling-memberi antar sejumlah fenomen yang berada di jenjang bawah, dan (2) sekali suatu jenjang atas terbentuk, ia secara alami terembani dengan relasi kendali asimetrik sebagai wibawa yang pas-persis kadarnya seperti relasi berpasangan pribahasa Minang di tinggikan seranting ditinggikan selangkah untuk memelihara persatuan. Dengan kata lain, persatuan itu terbentuk dan selanjutnya terpelihara oleh interaksi timbal balik antara fenomen yang berada pada jenjang bawah dan yang berada pada jenjang bawah dan yang berada pada jenjang satu tingkat diatasnya. Perlu segera kita catat dengan seksama bahwa relasi-kendali asimetrik adalah energi yang pas-persis bagi eksistensi semua hal, termasuk eksistensi alam semesta itu sendiri. Akhirnya loyalitas umat manusia seplanit bumi tertuju pada alam semesta ciptaan Tuhan; dengan ungkapan lain: loyalitas manusia pada lingkungan berpucuk diloyalitas pada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai loyalitas omeganya.

Sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan permusyawaratan/perwakilan, kerakyatan adalah pengabstrakan dari kata-dasar rakyat. Apabila arti “rakyat” adalah suatu concretus yang berwujud sejumlah banyak orang yang secara spesifik berstatus sebagai warga negara dari suatu negara, maka “kerakyatan” menunjuk pada sifat-sifat alami yang melekat pada rakyat. Dengan merujuk pada hakikat manusia yang telah diungkapkan oleh sila kemanusiaan yang adil dan beradab, yaitu manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial, sifat-sifat alami yang melekat pada kepribadian rakyat adalah: kepekaan dalam berasa, berpikir, bersikap, dan kesediaan berbuat, sesuai dengan keinsyafan keadilan rakyat, inilah makna hakiki dari kerakyatan.

‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan’ sebagai predikat dari ‘kerakyatan’ menunjuk pada faham demokrasi; sedangkan predikat termaksud sebagai dirinya sendiri menunjuk pada prosedur demokratik pengambilan putusan. Sebagai faham demokrasi : Merujuk pada konsep ontologik tentang kebersamaan hidup antarmanusia beserta lingkungannya, yaitu : (1) persatuan dalam hal ini berwujud negara beserta sistem pemerintahannya terbentuk oleh interaksi saling-memberi antargolongan rakyat yang alami maupun yang diorganisasi, yang berada dijenjang infra-struktur, dan (2) sekali jenjang supra-struktur yang berwujud negara beserta pemerintahannya terbentuk, ia terembani dengan relasi kendali a-simetrik sebagai wibawa untuk memelihara kelangsungan interaksi saling- memberi antarkomponen rakyat yang berada pada jenjang infrastruktur, maka ‘kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan’ sebagai faham demokrasi menunjuk pada faham: sistem pemerintahan dari-oleh-untuk rakyat dengan tujuan terwujudnya keinsyafan keadilan rakyat, melalui proses yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Menunjukan dua sisi yang tidak saling bertentangan. Bahwa internasionalisme dibangun atas dasar kesadaran nasionalisme yang ada pada setiap warga negara. Soekarno menegaskan bahwa internasionalisme hanya dapat tumbuh subur di atas tanah nasionalisme. Kedua sila tersebut juga menghendaki hubungan kesetaran antar setiap bangsa di dunia yang berlandaskan saling menghargai dan menghormati kedaulatan negara masing-masing. Keduanya secara jelas menolak keras setiap upaya kolonialisme dan imperialisme.

Sila kelima, keadilan sosial, konsep universal yang terkandung didalam Sila Keadilan sosial (bagi seluruh rakyat indonesia) adalah : keadilan adalah produk dari interaksi antarsubyek; bukan barang-jadi (ready-made thing) yang berstatus sebagai hak bawaan dari tiap individu manusia sejak ia dilahirkan. Konsep yang mendasari keadilan adalah keseimbangan antara kewajiban dan hak. Berpanggahan dengan pengakuan ontologik yang telah diidentifikasi di muka, yaitu: bahwa antar manusia terjalin relasi saling-tergantung, maka subyek dari keseimbangan antara kewajiban dan hak adalah jamak.

Dalam kerangka pemikiran inilah terungkap konsep Pancasila mengenai kewajiban dan hak manusia (KHM). Dari interaksi saling-memberi antarsubyek jamak , terungkaplah pengertian hak, yaitu: hak seseorang adalah hasil terlaksananya kewajiban orang lain yang berelasi ekuivalen dengannya. Dengan ungkapan lain, hak adalah derivat dari kewajiban.

Yang khas faham keadilan menurut faham Pancasila adalah: (1) subyeknya jamak yang berinteraksi secara berpasangan (2) bahan baku dari keadilan adalah hasil tunaian kewajiban memberi dari para subyek; (3) keadilannya bersifat fungsional, (4) dengan terjadinya transformasi kewajiban menjadi hak antarpasangan subyek yang jamak, melalui relasi satu-banyak, keadilan sosial terwujud. Jelas mengambarkan kehidupan yang sejahteraan bagi setiap warga dunia.

Sesungguhnya, Pancasila bukan hanya sekedar fondasi nasional negara Indonesia, tetapi berlaku universal bagi semua komunitas dunia internasional. Kelima sila dalam Pancasila telah memberikan arah bagi setiap perjalanan bangsa-bangsa di dunia dengan nilai-nilai yang berlaku universal. Tanpa membedakan ras, warna kulit, agama, setiap negara selaku warga dunia dapat menjalankan Pancasila dengan teramat mudah. Jika demikian, maka cita-cita dunia mencapai keadaan aman, damai, dan sejahtera, bukan lagi sebagai sebuah keniscayaan, tetapi sebuah kenyataan. Mengapa? Karena cita-cita Pancasila sangat sesuai dengan dambaan dan cita-cita masyarakat dunia. Bukankah kondisi dunia yang serba carut-marut seperti sekarang ini diakibatkan oleh faham-faham diluar Pancasila? Bukankah secara de fakto faham komunisme telah gagal dalam memberikan – kedamaian dan kesejahteraan bagi rakyat Uni Soviet?. Bukankah faham liberalisme banyak mendapat tantangan dari negara-negara berkembang?

Era globalisasi kiranya menjadi momentum yang sangat baik guna membangun tatanan dunia baru yang terlepas dari hingar-bingar perang dan kekerasan. Saat ini menjadi momentum yang sangat berharga bagi semua warga dunia untuk menghilangkan chauvinisme dan mengarahkan pandangan kepada Pancasila. Bahwa nilai-nilai luhur Pancasila yang taken for granted dapat menciptakan kondisi dunia menuju suasana yang aman, damai dan sejahtera. Dunia menjadi aman, sesuai nilai Pancasila, karena setiap negara di dunia menghargai dan menghormati kedaulatan setiap negara lain. Kedamaian dunia tercipta, karena Pancasila sangat menentang keras peperangan dan setiap tindak kekerasan dari satu negara kepada negara lain. Dan, kesejahteraan dunia bisa tercapai, sesuai nilai-nilai Pancasila, karena kesetaraan setiap negara di dunia sangat membuka peluang kerja sama antar negara dalam suasana yang tulus, tidak dalam sikap saling curiga, serta tidak saling memusuhi.

CARA – CARA UNTUK MENYIKAPINYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT :

1. Dalam perkembangan dunia yang serba modern seperti saat ini bangsa Indonesia dihadapkan dengan tantangan yang semakin besar dan kompleks sejalan dengan semakin derasnya arus perubahan dan kuatnya dampak globalisasi. Kondisi tersebut-mau tidak mau dan suka tidak suka – dapat berarkibat negatif terhadap cara pandang bangsa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Benteng terkuat untuk menangkal segala bentuk baik ancaman maupun pandangan yang dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan bangsa tersebut tentu dengan tetap berpegang teguh pada pandangan hidup bangsa Indonesia.

2. Sejatinya, perubahan sosial yang terjadi akibat globalisasi dipandang sebagai upaya bangsa untuk mengembangkan kepribadiannya sendiri melalui penyesuaian dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat modern. Atau dengan kata lain, dengan kepribadiannya sendiri, bangsa dan negara Indonesia berani menyongsong dan memandang pergaulan dunia. Tetapi, kendati hidup di antara pergaulan dunia, bangsa dan negara Indonesia tak mesti kehilangan jati diri.

3. Nilai-nilai Pancasila yang bersifat universal dapat diterima sebagai pedoman bagi segala tindakan dan perilaku negara-negara di dunia. Pasalnya, nilai-nilai Pancasila relevan dengan segala situasi dan kondisi di dunia hingga kapanpun. Apalagi Pancasila lahir dan dikembangkan dalam suasana perjuangan dan pemikiran panjang dari perjalanan bangsa Indonesia. Pancasila juga tidak memihak dan bukan bagian dari faham liberal ataupun faham sosialis yang banyak menimbulkan kesengsaraan bagi dunia. Selain itu, nilai-nilai Pancasila memandang kesetaraan setiap bangsa di dunia.

4. Era globalisasi kiranya menjadi momentum yang sangat baik guna membangun tatanan dunia baru yang terlepas dari hingar-bingar perang dan kekerasan. Dunia menjadi aman, sesuai nilai Pancasila, karena setiap negara di dunia menghargai dan menghormati kedaulatan setiap negara lain. Kedamaian dunia tercipta, karena Pancasila sangat menentang keras peperangan dan setiap tindak kekerasan dari satu negara kepada negara lain. Dan, kesejahteraan dunia bisa tercapai, sesuai nilai-nilai Pancasila, karena kesetaraan setiap negara di dunia sangat membuka peluang kerja sama antar negara dalam suasana yang tulus, tidak dalam sikap saling curiga, serta tidak saling memusuhi.

About andinicliquers

secret my life
This entry was posted in umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s