Perbedaan Individu

Destri Andini

11208460

3 EA10

  1. PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Manusia adalah mahluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang . sejak ratusan tahun sebelum Isa, manusia telah menjadi obyek filsafat, baik obyek formal yang mempersoalkan hakikat manusia maupun obyek material yang mempersoalkan manusia sebagai apa adanya manusia dengan berbagai kondisinya. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai mahluk yang berpikir atau homo sapiens, mahluk yang berbuat atau homo faber, mahluk yang dapat dididik atau homo educandum dan seterusnya. Dalam kamus Echols & Shadaly (1975), individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan, dan oknum. Berdasarkan pengertian di atas dapat dibentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilikinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diinginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan. Pada awal kehidupannya bagi seorang bayi mementingkan kebutuhan jasmaninya, ia belum peduli dengan apa saja yang terjadi diluar dirinya. Ia sudah senang bila kebutuhan fisiknya sudah terpenuhi. Dalam perkembangan selanjutnya maka ia akan mulai mengenal lingkungannya, membutuhkan alat komunikasi (bahasa), membutuhkan teman, keamanan dan seterusnya. Semakin besar anak tersebut semakin banyak kebutuhan non fisik atau psikologis yang dibutuhkannya.

  1. LANDASAN TEORI

 

  • Perbedaan Individu
  1. Konsumen dan Proses Pertukaran

Proses pertukaran yang terjadi dalam pemasaran melibatkan pertukaran sesuatu yang bernilai, yang diberikan oleh pelanggan untuk sesuatu yang bernilai yang di terima dari penjual. Sumber daya lain yang di gunakan seperti energi, mungkin digunakan untuk berbelanja dan konsumsi, tetapi uang, waktu dan perhatian merupakan yang utama. Contohnya dalam pasar tradisional seorang konsumen menukarkan uangnya dengan barang yang akan di butuhkan konsumen saat itu. Dalam sebuah organisasi, konsumen mungkin menukar waktu mereka sebagai sukarelawan, tenaga, pikiran atau bahkan uang untuk operasional organisasi tersebut. Sebenarnya perilaku konsumen tersebut ditentukan, dipaksa oleh sumber daya yang tersedia untuk di tukar oleh barang dan jasa yang ingin dijual.

B. Sumber Daya Ekonomi Konsumen

Keputusan konsumen sehubungan dengan produk dan merek sangat di pengaruhi oleh jumlah sumber daya ekonomi yang mereka punyai atau mungkin yang mereka punyai pada masa datang. Untuk menjadi seorang konsumen di perlukan uang sebagai alat tukar. Dalam era yang lebih awal di kenal barter, yaitu pertukaran barang yang lazim dilakukan. Barter masih digunakan dalam masyarakat kurang maju, contohnya saat ini barter masih digunakan di suku baduy dalam, dalam membarter sesuatu masyarakat baduy menukar barang yang mereka punya dengan barang yang mereka ingini, misalnya seseorang ingin menukar beras yang dimiliki dengan ayam atau kambing, mereka sudah mempunyai ukuran tertentu akan suatu barang yang di ingini. Dalam masa sekarang di kawasan urban, masyarakat menggunakan sumber daya ekonominya, seperti pendapatan serta kekayaan itu merupakan variabel pertama yang harus dianalisis didalam perilaku konsumen dalam pembelajaan untuk kategori makanan, pakaian, perumahan dan lain-lain (pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan sebagainya).

C. Sumber Daya Temporal

Waktu menjadi hal yang sangat penting dalam memahami perilaku konsumen karena banyak dari konsumen yang menghabiskan waktunya tiap minggu untuk bekerja rata- rata 8 jam setiap harinya sehingga mereka kahilangan waktu hanya sekedar untuk mengosongkan waktu untuk sekedar beristirahat. Walaupun demikina perilaku tersebut berhubungan dengan bagaimana orang menggunakan anggaran waktu mereka, kebanyakan dari mereka waktu dihabiskan untuk bekerja, tidur dan kewajiban lain. Namun ada bagian tertentu untuk kegiatan sangat pribadi yang disebut waktu senggang yang mencerminkan baik kepribadian maupun gaya hidup seseorang. Contohnya setelah lelah bekerja dari senin sampai jumat seorang pekerja membutuhkan penyekgaran di akhir minggu, entah berekreasi atau melakukan hal yang membuat mereka nyaman serta dapat melepaskan penat selama seminggu bekerja.

D. Sumber Daya Koqnitif

Sumber daya kognitif menggambarkan kapasitas mental yang tersedia untuk menjalankan berbagai kegiatan dalam pengolahan informasi. Ukuran kapasitas kerap digambarkan dalam instilah keratin, yang mewakili suatu pengelompokan atau kombinasi informasi yang dapat diolah sebagai suatu unit. Kapasitas kognitif dikenal sebagai perhatian, terdiri dari dua dimensi: arahan yang menggambarkan focus terhadap perhatian , serta intensitas yang mengacu pada jumlah kapasitas yang difokuskan pada arahan tertentu. Misalnya, saat melihat iklan produk kendaraan, konsumen memilih produk mana yang disukai mulai dari merek, jenis, serta hal-hal yang mendetail dari produk tersebut setelah mnemukan hal yang di ingini mereka segera membeli produk tersebut.

Menurut James F. Engel – Roger D. Blackwell – Paul W. Miniard dalam Saladin terdapat tiga faktor yang mempengaruhinya, yaitu :

  • Pengaruh lingkungan, terdiri dari budaya, kelas sosial, keluarga dan situasi. Sebagai dasar utama perilaku konsumen adalah memahami pengaruh lingkungan yang membentuk atau menghambat individu dalam mengambil keputusan berkonsumsi mereka. Konsumen hidup dalam lingkungan yang kompleks, dimana perilaku keputusan mereka dipengaruhi oleh keempat faktor tersebut diatas.
  • Perbedaan dan pengaruh individu, terdiri dari motivasi dan keterlibatan, pengetahuan, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan demografi. Perbedaan individu merupkan faktor internal (interpersonal) yang menggerakkan serta mempengaruhi perilaku. Kelima faktor tersebut akan memperluas pengaruh perilaku konsumen dalam proses keputusannya.
  • Proses psikologis, terdiri dari pengolahan informasi, pembelajaran, perubahan sikap dan perilaku. Ketiga faktor tersebut menambah minat utama dari penelitian konsumen sebagai faktor yang turut mempengaruhi perilaku konsumen dalam penambilan keputusan pembelian.

Dalam aspek perkembangan individu, dikenal ada dua fakta yang menonjol, yaitu (i) semua diri manusia mempunyai unsur-unsur kesamaan didalam pola perkembangannya, dan (ii) di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk warisan manusia – secara biologis dan social, tiap individu mempunyai kecenderungan berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut secara keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif dan bukan kualitatif.

Makna “perbedaan” dan “perbedaan individual” menurut Lindgren (1980) menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun psikologis.

Adapun bidang-bidang dari perbedaannya yakni:

1. Perbedaan kognitif

Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Setiap orang memiliki persepsi tentang hasil pengamatan atau penyerapan atas suatu obyek. Berarti ia menguasai segala sesuatu yang diketahui, dalam arti pada dirinya terbentuk suatu persepsi, dan pengetahuan itu diorganisasikan secara sistematik untuk menjadi miliknya.

2.Perbedaan kecakapan bahasa

Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu yang sangat penting dalam kehidupan. Kemampuan tiap individu dalam berbahasa berbeda-beda. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang untuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang penuh makna, logis dan sistematis. Kemampuan berbaha sangat dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan serta faktor fisik (organ bicara).

3. Perbedaan kecakapan motorik

Kecakapan motorik atau kemampuan psiko-motorik merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi gerakan syarat motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat untuk melakukan kegiatan.

4. Perbedaan Latar Belakang

Perbedaaan latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing dapat memperlancar atau menghambat prestasinya, terlepas dari potensi individu untuk menguasai bahan.

5. Perbedaan bakat

Bakat merupakan kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Kemampuan tersebut akan berkembang dengan baik apabila mendapatkan rangsangan dan pemupukan secara tepat sebaliknya bakat tidak berkembang sama, manakala lingkungan tidak memberi kesempatan untuk berkembang, dalam arti tidak ada rangsangan dan pemupukan yang menyentuhnya.

6. Perbedaan kesiapan belajar

Perbedaan latar belakang, yang mliputi perbedaan sisio-ekonomi sosio cultural, amat penting artinya bagi perkembangan anak. Akibatnya anak-anak pada umur yang sama tidak selalu berada pada tingkat kesiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas.

  1. PENUTUP

Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Natur dan nature merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan. Seorang bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis keluarga, yaitu garis keturunan ayah dan garis keturunan ibu. Sejak terjadinya pembuahan atau konsepsi kehidupan yang baru, maka secara berkesinambungan dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor lingkungan yang merangsang.

IV.  DAFTAR PUSTAKA

Engel, J F; Roger D B; Paul, W M. 1995. Perilaku konsumen jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara.

http://edukasi.kompasiana.com

Posted in umum | Leave a comment

Sumber daya dalam perbedaan individu

Destri Andini

11208460

3 EA10

  1. PENDAHULUAN

Manusia adalah mahluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang . sejak ratusan tahun sebelum Isa, manusia telah menjadi obyek filsafat, baik obyek formal yang mempersoalkan hakikat manusia maupun obyek material yang mempersoalkan manusia sebagai apa adanya manusia dengan berbagai kondisinya. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai mahluk yang berpikir atau homo sapiens, mahluk yang berbuat atau homo faber, mahluk yang dapat dididik atau homo educandum dan seterusnya. Dalam kamus Echols & Shadaly (1975), individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan, dan oknum. Berdasarkan pengertian di atas dapat dibentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilikinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diinginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan. Pada awal kehidupannya bagi seorang bayi mementingkan kebutuhan jasmaninya, ia belum peduli dengan apa saja yang terjadi diluar dirinya. Ia sudah senang bila kebutuhan fisiknya sudah terpenuhi. Dalam perkembangan selanjutnya maka ia akan mulai mengenal lingkungannya, membutuhkan alat komunikasi (bahasa), membutuhkan teman, keamanan dan seterusnya. Semakin besar anak tersebut semakin banyak kebutuhan non fisik atau psikologis yang dibutuhkannya.

  1. LANDASAN TEORI

 

  • Perbedaan Individu
  1. Konsumen dan Proses Pertukaran

Proses pertukaran yang terjadi dalam pemasaran melibatkan pertukaran sesuatu yang bernilai, yang diberikan oleh pelanggan untuk sesuatu yang bernilai yang di terima dari penjual. Sumber daya lain yang di gunakan seperti energi, mungkin digunakan untuk berbelanja dan konsumsi, tetapi uang, waktu dan perhatian merupakan yang utama. Contohnya dalam pasar tradisional seorang konsumen menukarkan uangnya dengan barang yang akan di butuhkan konsumen saat itu. Dalam sebuah organisasi, konsumen mungkin menukar waktu mereka sebagai sukarelawan, tenaga, pikiran atau bahkan uang untuk operasional organisasi tersebut. Sebenarnya perilaku konsumen tersebut ditentukan, dipaksa oleh sumber daya yang tersedia untuk di tukar oleh barang dan jasa yang ingin dijual.

B. Sumber Daya Ekonomi Konsumen

Keputusan konsumen sehubungan dengan produk dan merek sangat di pengaruhi oleh jumlah sumber daya ekonomi yang mereka punyai atau mungkin yang mereka punyai pada masa datang. Untuk menjadi seorang konsumen di perlukan uang sebagai alat tukar. Dalam era yang lebih awal di kenal barter, yaitu pertukaran barang yang lazim dilakukan. Barter masih digunakan dalam masyarakat kurang maju, contohnya saat ini barter masih digunakan di suku baduy dalam, dalam membarter sesuatu masyarakat baduy menukar barang yang mereka punya dengan barang yang mereka ingini, misalnya seseorang ingin menukar beras yang dimiliki dengan ayam atau kambing, mereka sudah mempunyai ukuran tertentu akan suatu barang yang di ingini. Dalam masa sekarang di kawasan urban, masyarakat menggunakan sumber daya ekonominya, seperti pendapatan serta kekayaan itu merupakan variabel pertama yang harus dianalisis didalam perilaku konsumen dalam pembelajaan untuk kategori makanan, pakaian, perumahan dan lain-lain (pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan sebagainya).

C. Sumber Daya Temporal

Waktu menjadi hal yang sangat penting dalam memahami perilaku konsumen karena banyak dari konsumen yang menghabiskan waktunya tiap minggu untuk bekerja rata- rata 8 jam setiap harinya sehingga mereka kahilangan waktu hanya sekedar untuk mengosongkan waktu untuk sekedar beristirahat. Walaupun demikina perilaku tersebut berhubungan dengan bagaimana orang menggunakan anggaran waktu mereka, kebanyakan dari mereka waktu dihabiskan untuk bekerja, tidur dan kewajiban lain. Namun ada bagian tertentu untuk kegiatan sangat pribadi yang disebut waktu senggang yang mencerminkan baik kepribadian maupun gaya hidup seseorang. Contohnya setelah lelah bekerja dari senin sampai jumat seorang pekerja membutuhkan penyekgaran di akhir minggu, entah berekreasi atau melakukan hal yang membuat mereka nyaman serta dapat melepaskan penat selama seminggu bekerja.

D. Sumber Daya Koqnitif

Sumber daya kognitif menggambarkan kapasitas mental yang tersedia untuk menjalankan berbagai kegiatan dalam pengolahan informasi. Ukuran kapasitas kerap digambarkan dalam instilah keratin, yang mewakili suatu pengelompokan atau kombinasi informasi yang dapat diolah sebagai suatu unit. Kapasitas kognitif dikenal sebagai perhatian, terdiri dari dua dimensi: arahan yang menggambarkan focus terhadap perhatian , serta intensitas yang mengacu pada jumlah kapasitas yang difokuskan pada arahan tertentu. Misalnya, saat melihat iklan produk kendaraan, konsumen memilih produk mana yang disukai mulai dari merek, jenis, serta hal-hal yang mendetail dari produk tersebut setelah mnemukan hal yang di ingini mereka segera membeli produk tersebut.

Menurut James F. Engel – Roger D. Blackwell – Paul W. Miniard dalam Saladin terdapat tiga faktor yang mempengaruhinya, yaitu :

  • Pengaruh lingkungan, terdiri dari budaya, kelas sosial, keluarga dan situasi. Sebagai dasar utama perilaku konsumen adalah memahami pengaruh lingkungan yang membentuk atau menghambat individu dalam mengambil keputusan berkonsumsi mereka. Konsumen hidup dalam lingkungan yang kompleks, dimana perilaku keputusan mereka dipengaruhi oleh keempat faktor tersebut diatas.
  • Perbedaan dan pengaruh individu, terdiri dari motivasi dan keterlibatan, pengetahuan, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan demografi. Perbedaan individu merupkan faktor internal (interpersonal) yang menggerakkan serta mempengaruhi perilaku. Kelima faktor tersebut akan memperluas pengaruh perilaku konsumen dalam proses keputusannya.
  • Proses psikologis, terdiri dari pengolahan informasi, pembelajaran, perubahan sikap dan perilaku. Ketiga faktor tersebut menambah minat utama dari penelitian konsumen sebagai faktor yang turut mempengaruhi perilaku konsumen dalam penambilan keputusan pembelian.

Dalam aspek perkembangan individu, dikenal ada dua fakta yang menonjol, yaitu (i) semua diri manusia mempunyai unsur-unsur kesamaan didalam pola perkembangannya, dan (ii) di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk warisan manusia – secara biologis dan social, tiap individu mempunyai kecenderungan berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut secara keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif dan bukan kualitatif.

Makna “perbedaan” dan “perbedaan individual” menurut Lindgren (1980) menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun psikologis.

Adapun bidang-bidang dari perbedaannya yakni:

1. Perbedaan kognitif

Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Setiap orang memiliki persepsi tentang hasil pengamatan atau penyerapan atas suatu obyek. Berarti ia menguasai segala sesuatu yang diketahui, dalam arti pada dirinya terbentuk suatu persepsi, dan pengetahuan itu diorganisasikan secara sistematik untuk menjadi miliknya.

2.Perbedaan kecakapan bahasa

Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu yang sangat penting dalam kehidupan. Kemampuan tiap individu dalam berbahasa berbeda-beda. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang untuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang penuh makna, logis dan sistematis. Kemampuan berbaha sangat dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan serta faktor fisik (organ bicara).

3. Perbedaan kecakapan motorik

Kecakapan motorik atau kemampuan psiko-motorik merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi gerakan syarat motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat untuk melakukan kegiatan.

4. Perbedaan Latar Belakang

Perbedaaan latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing dapat memperlancar atau menghambat prestasinya, terlepas dari potensi individu untuk menguasai bahan.

5. Perbedaan bakat

Bakat merupakan kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Kemampuan tersebut akan berkembang dengan baik apabila mendapatkan rangsangan dan pemupukan secara tepat sebaliknya bakat tidak berkembang sama, manakala lingkungan tidak memberi kesempatan untuk berkembang, dalam arti tidak ada rangsangan dan pemupukan yang menyentuhnya.

6. Perbedaan kesiapan belajar

Perbedaan latar belakang, yang mliputi perbedaan sisio-ekonomi sosio cultural, amat penting artinya bagi perkembangan anak. Akibatnya anak-anak pada umur yang sama tidak selalu berada pada tingkat kesiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas.

  1. PENUTUP

Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Natur dan nature merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan. Seorang bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis keluarga, yaitu garis keturunan ayah dan garis keturunan ibu. Sejak terjadinya pembuahan atau konsepsi kehidupan yang baru, maka secara berkesinambungan dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor lingkungan yang merangsang.

IV.  DAFTAR PUSTAKA

Engel, J F; Roger D B; Paul, W M. 1995. Perilaku konsumen jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara.

http://edukasi.kompasiana.com

Posted in umum | Leave a comment

PENGARUH RUMAH TANGGA DAN KELUARGA DALAM PERILAKU KONSUMEN

PENDAHULUAN

Saat ini keberadaan keluarga dan rumah tangga sangat mempengaruhi pola dan perilaku konsumen seseorang. Hal ini didasarkan pada gaya hidup keluarga maupun rumah tangga tersebut. Semakin tinggi derajat dari keluarga tersebut, maka makin tinggi pula tingkat perilaku konsumen mereka. Sebagai contoh, jika dalam suatu keluarga dan rumah tangga merasa memerlukan atau membutuhkan mobil ataupun motor untuk keperluan transportasi , serta memerlukan fasilitas-fasilitas elektronik maupun furniture, dan mereka memiliki kemampuan untuk membeli kebutuhan tersebut maka mereka akan membelinya. Dan  sebaliknya, jika keluarga dan rumah tangga memiliki berbagai kebutuhan, tetapi tidak diimbangi oleh kemampuan untuk membelinya, maka mereka akan memilih atau memprioritaskan kebutuhan mereka yang lebih penting. Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dan telah diteliti secara eksensif. Para pemasar tertarik dengan peran dan pengaruh relatif dari suami istri, dan anak-anak dalam pembelian berbagai macam produk dan jasa. Peran dan pengaruh ini akan sangat bervariasi di negara-negara dan kelas-kelas sosial yang berbeda.

Studi tentang keluarga dan hubungan mereka dengan pembelian dan konsumsi adalah penting, tetapi kerap diabaikan dalam analisis perilaku konsumen. Pentingnya keluarga timbul karena dua alasan :

a] Banyak produk yang dibeli oleh konsumen ganda yang bertindak sebagai unit keluarga. Rumah adalah contoh produk yang dibeli oleh kedua pasangan, mungkin dengan melibatkan anak, kakek-nenek, atau anggota lain dari keluarga besar. Mobil biasanya dibeli oleh keluarga, dengan kedua pasangan dan kerap anak remaja mereka terlibat dalam berbagai tahap keputusan. Bentuk favorit dari kegiatan waktu senggang bagi banyak keluarga adalah berkunjung ke pusat perbelanjaan setempat. Kunjungan tersebut kerap melibatkan banyak anggota keluarga yang membeli berbagai barang rumah tangga, busana, dan bahan makanan.

b] Ketika pembelian dibuat oleh individu, keputusan pembelian individu bersangkutan mungkin sangat dipengaruhi oleh anggota lain.dalam keluarganya. Orang yang bertanggung jawab untuk pembelian dan persiapan makanan keluarga mungkin bertindak sebagai individu di pasar swalayan, tetapi dipengaruhi oleh preferensi dan kekuasaan anggota lain dalam keluarga. Konsumen tersebut mungkin menyukai makanan dan kegiatan waktu senggang yang sama, dan mengemudikan merek mobil yang sama dengan anggota yang lain dalam keluarga. Pengaruh keluarga dalam keputusan konsumen tersebut benar-benar meresap.

 

LANDASAN TEORI

 

  • Pengaruh Rumah Tangga dan Keluarga

Rumah Tangga

Rumah tangga (household) adalah istilah lain yang kerap digunakan oleh para pemasar sewaktu mendeskripsikan perilaku konsumen. Rumah tangga berbeda dengan keluarga, rumah tangga mendeskripsikan semua orang  baik yang berelasi maupun tidak berelasi yang tinggal dan menempati satu unit perumahan.

Haverty mengidentifikasikan variabel utama yang terlibat adalah :

  1. A. Fungsi Produksi Rumah Tangga, terdiri dari :

[a] Fungsi Pembelian

[b] Produksi Rumah Tangga

[c] Fungsi Konsumsi

[d] Fungsi Pasar Tenaga Kerja

[e] Fungsi Pemeliharaan Keluarga

B. Stok (Sumber Daya) Rumah Tangga, :

(i) Informasi

(ii) Sumber Keuangan

(iii) Barang Pasar

(iv) Karakteristik

(v) Waktu

C. Variabel Eksogen atau yang Ditetapkan Sebelumnya, :

a) Data

b) Peluang Pasar Tenaga Kerja

c) Peluang Pasar Produk

d) Struktur Rumah Tangga

e) Kepuasan

Keluarga

Secara bahasa Keluarga (family) dapat diartikan sebagai sekelompok individu yang terdiri dari dua atau lebih orang yang berhubungan darah, pernikahan atau adopsi yang tinggal bersama. Keluarga terdiri dari :

(i) Keluarga inti (nuclear family) adalah kelompok langsung yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang tingga bersama.

(ii) Keluarga besar (extended family) mencakup keluarga inti, beserta kerabat lain, seperti kakek-nenek, paman-bibi, sepupu dan kerabat karena perkawinan.

Anggota keluarga merupakan kelompok acuan primer yang paling berpengaruh. Kita biasa membedakan dua keluarga dalam kehidupan pembeli Keluarga orientasi (family of orientation) terdiri dari orang tua seseorang. Dari orang tua, seseorang memperoleh orientasi terhadap agama, poltik, dan ekonomi serta pamahaman atas ambisi pribadi, penghargaan pribadi, dan cinta. Bahkan jika pembeli sudah tidak lagi terlalu sering berinteraksi dengan orang tuanya, pengaruh orang tua terhadap perilaku pembeli tersebut bisa saja tetap signifikan. Di negara-negara di mana orang tua hidup bersama anak- anak mereka yang sudah dewasa, pengaruh mereka dapat saja bersifat substansial.
Pengaruh yang lebih langsung terhadap perilaku pembelian sehari-hari adalah keluarga prokreasi (Family of procreation) seseorang, yakni pasangan hidup (suami/istri) dan anak-anaknya. Pemasar harus selalu meneliti pola-pola spesifik dalam pasar sasaran tertentu. Contohnya, di dalam rumah tangga tradisional China, sudah merupakan hal yang biasa bila suami memberikan semua gajinya kepada istrinya, karena sang istri yang mengatur pengeluaran keluarganya. Suatu keluarga mungkin merupakan satu keluarga patriat (patriarchal family) : dimana sang ayah dipertimbangkan sebagai anggota yang paling dominan. Sedangkan dalam suatu keluarga matriat (matriarchal family) : pihak wanita memainkan peran dominan, dan membuat banyak keputusan. Dalam equalitarian family, sang suami dan istri membagi secara seimbang dalam pengambilan keputusan.

Keluarga memiliki pendapatan rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumah tangga karena jumlah individu yang bekerja di dalam keluarga tersebut lebih banyak. Bagi keluarga maupun rumah tangga, variabel structural sangat memberi dampak pada keputusan pembelian dan yang paling menarik bagi pemasar adalah usia kepala rumah tangga atau keluarga, status perkawinan, kehadiran anak, dan status pekerjaannya. Keluarga adalah sama dengan perusahaan; keluarga merupakan organisasi yang terbentuk untuk mencapai fungsi tertentu yang lebih efektif dibandingkan individu yang hidup sendiri. Fungsi yang paling jelas bahwa dua orang dapat mencapai lebih baik daripada satu orang adalah mempunyai anak. Walaupun analisis konsumen mungkin tidak mempunyai opini mengenai apakah keluarga harus mempunyai anak atau tidak. Konsekuensi ekonomi dengan hadirnya anak menciptakan struktur permintaan akan pakaian, makanan, perabot, rumah, perawatan kesehatan, pendidikan dan produk.lain. Anak di dalam keluarga dapat menyebabkan menurunnya permintaan akan produk lain, seperti perjalanan, restoran, pakaian orang dewasa, dan banyak barang yang bebas pilih.

·        VARIABEL SOSIOLOGIS YANG MEMPENGARUHI KELUARGA

Pemasar juga perlu menganalisis variabel nonekonomi untuk meramalkan perilaku pembelian. Bagaimana keluarga mengambil keputusan dapat dimengerti dengan lebih baik dengan mempertimbangkan dimensi sosiologis seperti kohesi, kemampuan beradaptasi (adaptability), dan komunikasi. Kohesi adalah pertalian emosi yang dimiliki para anggota keluarga satu sama lain. Kohesi merupakan ukuran seberapa dekat yang dirasakan oleh para anggota keluarga terhadap satu sama lain pada tingkat emosi. Kohesi merefleksikan perasaan keterkaitan dengan atau keterpisahan dari anggota lain dalam keluarga.

Kemampuan keluarga dalam beradaptasi adalah kemampuan sistem perkawinan atau keluarga untuk mengubah struktur kekuasaannya, hubungan peranan, dan kaidah hubungan sebagai respon terhadap stress situasional dan perkembangan. Kemampuan keluarga dalam beradaptasi adalah ukuran seberapa baik keluarga dapat memenuhi tantangan yang disajikan oleh kebutuhan yang berubah. Komunikasi adalah dimensi untuk memudahkan yang kritis bagi gerakan pada dua dimensi yang lain. Keterampilan berkomunikasi yang positif memungkinkan keluarga untuk berbagi satu sama lain, kebutuhan dan preferensi mereka yang berubah-ubah sebagaimana berhubungan dengan kohesi dan kemampuan beradaptasi.

KEPUTUSAN PEMBELIAN KELUARGA

Keluarga adalah “pusat pembelian” yang merefleksikan kegiatan dan pengaruh individu yang membentuk keluarga bersangkutan. Individu membeli produk untuk dipakai sendiri dan untuk dipakai oleh anggota keluarga yang lain.

PERANAN INDIVIDU DALAM PEMBELIAN KELUARGA

Keputusan konsumsi keluarga melibatkan setidaknya lima peranan yang dapat didefinisikan. Peranan-peranan ini mungkin dipegang oleh suami, istri, anak, atau anggota lain dalam rumah tangga. Peranan ganda atau aktor ganda adalah normal.

  1. Penjaga pintu (gatekeeper). Inisiator pemikiran keluarga mengenai pembelian produk dan pengumpulan informasi untuk membantu pengambilan keputusan
  2. Pemberi pengaruh (influencer). Individu yang opininya dicari sehubungan dengan kriteria yang harus digunakan oleh keluarga dalam pembelian dan produk atau merek mana yang paling mungkin cocok dengan kriteria evaluasi itu
  3. Pengambil keputusan (decider). Orang dengan wewenang atau kekuasaan keuangan untuk memilih bagaimana uang keluarga akan dibelanjakan dan produk atau merek apa yang yang akan dipilih.
  4. Pembeli (buyer). Orang yang bertindak sebagai agen pembelian yang mengunjungi toko, menghubungi penyuplai, menulis cek, membawa produk kerumah, dan seterusnya.
  5. Pemakai (user). Orang yang menggunakan produk

Pemasar perlu berkomunikasi dengan pemegang masing-masing peranan. Anak misalnya, adalah pemakai serealia, mainan, pakaian, dan banyak produk lain, tetapi mungkin bukan pembeli. Salah satu atau kedua orangtua mungkin merupakan pengambil keputusan dan membeli, karena mungkin anak penting sebagai pemberi pengaruh dan pemakai.Peranan memberi pengaruh mungkin dipegang oleh orang yang paling ahli. Sebagai contoh, orangtua mungkin menjadi pengambil keputusan mengenai mobil mana yang mereka akan beli, tetapi remaja memainkan peranan utama sebagai penjaga pintu informasi dan sebagai pemberi pengaruh karena pengetahuan yang lebih banyak mengenai unjuk kerja, ciri produk, atau norma social.

KESIMPULAN

Rumah tangga (a household) terdiri dari anggota yang terkait dengan keluarga (family) dan semua orang-orang yang tidak terkait yang berada dalam suatu unit tempat tinggal (baik itu rumah, apartemen, kelompok kamar-kamar, dan lain-lain).

Keluarga memiliki struktur sendiri, seperti juga yang terjadi pada masyarakat, dimana setiap anggota memainkan perannya masing-masing. Bagi pemasar adalah penting untuk membedakan peran setiap anggota keluarga dalam tujuan untuk mengoptimalkan strategi pemasaran. Asumsi yang dibuat mengenai peran-peran pembelian harus dicek melalui riset konsumen sehingga pemasar dapat membuat bauran pemasaran yang tepat ditujukan terhadap individu yang tepat. Konsep siklus hidup keluarga atau rumah tangga telah terbukti sangat bermanfaat bagi pemasar, khususnya untuk aktivitas dari keluarga-keluarga seiring dengan berjalannya waktu. Dengan adanya konsep siklus hidup, pemasar mampu mengapresiasi kebutuhan keluarga, pembelian produk, dan sumber daya keuangan bervariasi sepanjang waktu. Siklus hidup keluarga modern didasarkan pada usia (dari individu wanita dalam rumah tangga, jika tepat), yang ditelusuri dalam kelompok-kelompok usia muda (young), usia menengah (middle aged). Dan kelompok usia lebih tua (elderly). Usia yang beragam ini dipengaruhi oleh dua bentuk peristiwa penting, yaitu (1) pernikahan dan pemisahan (baik karena perceraian atau kematian), dan (2) hadirnya anak pertama dan anak paling akhir.

DAFTAR PUSTAKA

http://bankskripsi.com/article/pengaruh+rumah+tangga+terhadap+dasar+perilaku+konsumen

David H. Olson, Hamilton, I McCubbin et al., Families: What Makes Them Work? (Beverly Hills: Sage Publications, 1983).

Harry L. Davis, “Decision Making whithin the Household,“Journal of Counsumer Research 2 (Maret 1976), 241-260.

Posted in umum | Leave a comment

Kehidupan Global Menurut Faham Pancasila dan Cara Menyikapi Ajaran atau Faham yang bertentangan dengan Nilai Agama dan Pancasila

Dalam kaitan dengan kehidupan global antar bangsa padanan dari fenomen-fenomen yang merakit diri dalam MEAS adalah kehidupan global antar bangsa yang saling tergantung selaku subyek yang berinteraksi saling memberi berdasarkan dengan tesis ontologik pertama dari MEAS yang mengajarkan bahwa : “Dalam alam semesta, tidak ada sebuah fenomenpun yang mandiri berdiri sendiri terlepas dari fenomena lain”. Hukum-hukum yang terdapat didalam MEAS seperti antara lain tercermin oleh tiga tesis ontologik tersebut dimuka, bersifat imperatif bagi segenap umat manusia, termasuk pengelompokan manusia yang berwujud negara – kebangsaan.

Berdasarkan tesis ontologik , berpendapat bahwa : (1) Pemerintah dunia yang terpusat dan bersifat otoritarian, memang seyogyanya tidak diwujudkan, karena konsep itu mengandung konsekuensi – logik terhapusnya kedaulatan yang ada pada negara kebangsaan (Konsep “Word Order” sejenis ini, sebelumnya telah diajukan oleh Thomas Hobbes dengan “Negara Laviahan” nya dan oleh muritnya yaitu Roymon aron dengan konsepnya ia namai “Wold Imperium”).

Kedaulatan Maksimum Tetapi Saling -Tergantung. “Kemerdekaan” yang merupakan salah satu dasar dari faham Indonesia mengenai “ketertiban dunia” (seperti yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945: “….. ikut melaksanakan keteriban dunia yang didasarkan pada kemerdekaan, perdaimaian abadi dan keadilan sosial”), disatu fihak mengandung faham kedaulatan maksimum, namun dilain fihak, adanya relasi alami saling – tergantung antar negara, maka terpeliharanya kondisi kedaulatan-maksimum termaksud, sampai tingkat tertentu tergantung pada terlaksananya kewajiban memberi dari negara atau sejumlah negara lain yang bertautan dengannya. Dengan kata lain, kedaulatan-maksimum yang dimiliki oleh tiap negara, adanya kalanya dalam interaksi tertentu dengan negara lain, menjadi “terkurangi”, namun “pengurangan” itu terjadi sebagai akibat dari perbuatannya sendiri, yaitu melaksanakan kewajiban memberi sesuatu kepada negara lain demi terpeliharanya sesuatu keseluruhan yang lebih tinggi nilainya, yaitu terpeliharanya kebersamaan hidup antar negara yang identik terpeliharanya kondisi ketertiban dunia.

Dalam kondisi kehidupan global yang terwujud berkat terselenggaranya interaksi saling-memberi antar negara tersebut diatas, terkuranginya kadar kedaulatannya, oleh para negara-kebangsaan tidak dirasakan sebagai beban yang ditimpakan kepadanya oleh kekuasaan duniawi buatan manusia, melainkan disadarinya sebagai hal yang alami dan karenanya tak terelakan demi terpeliharanya ketertiban dunia yang eksistensi dirinya bergantung padanya.

Dengan demikian, kedaulatan – maksimum yang oleh polemologi versi Barat dinilai sebagai hambatan yang mendasar terhadap terbentuknya “Wold Order” seperti antara lain yang dikemukakan oleh starke, telah terjawab oleh faham Ketertban Dunia yaitu bersifat integralistik yang dianut oleh bangsa Indonesia.

Pergaulan Internasional. Kehidupan masyarakakat menjadi bersifat individual, begitu pula mutates mutadis kehidupan antar bangsa dalam pergaulan internasional. Segenap subyek kehidupan, mulai dari manusia, masyarakat bangsa, sampai negara, dalam interaksinya didorong oleh kepentingan diri manusia, tak mengakui lagi adanya relasi-alami saling tergantungan antar subyek selama masa dua abad sejak terjadinya revolusi industri hingga menjelang akhir abad XX.

Peradabatan modern individualistik yang telah berlangsung selama dua abad ini, yang mencapai kualitas optimal formatnya sebagai peradaban era globalisasi, oleh teknologi informasi secara paradoxal di transformasi kembali menjadi peradaban yang berstruktur saling tergantungan alami antar manusia, antar bangsa, antar bangsa.

Orientasi global dan saling-tergantungan “I” terakhir temuan Ohmae adalah konsumen individual, tesis yang terkandung di dalam arus “I” ini adalah pada konsumen individual juga telah menjadi lebih global orientasinya. Melalui akses yang lebih baik ke informasi tentang gaya hidup di seputar jagad, makin menghendaki produk yang terbaik dan termurah, tidak peduli dari mana asalnya (Ohmae 1995 :40.)

Para pendiri Republik menyadari signifikansi visi tertuang dalam sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Bahwa martabat manusia merupakan fondasi semua nilai moral dasar Pancasila. Prioritas negara berdasarkan Pancasila semestinya meningkatkan deminsi kemanusiaan rakyatnya. Sila kemanusiaan memanyungi sila kebangsaan agar nasionalisme tidak membuahkan pemerintahan dan rakyat yang diskriminatif berdasarkan ras atau etnis. Rasialisme dalam segala bentuk harus diakhiri karena melahirkan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Jadi, nilai-nilai universal yang dibawa arus globalisasi saat ini sebenarnya tak lebih nilai-nilai Pancasila dalam artian yang luas. Cakupan dan muatan globalisasi telah ada dalam Pancasila. Karena itu, mempertentangkan ideologi Pancasila dengan ideologi atau faham lain tak lebih dari sekedar kesiaan belaka. Selain itu, selama masih terjadi pergulatan pada faham dan pandangan hidup, bangsa dan rakyat Indonesia akan terus berada dalam kekacauan berpikir dan sikap hidup. Menggantikan Pancasila sebagai dasar negara tidak mungkin karena faham lain tidak akan mendapat dukungan bangsa dan rakyat Indonesia. Pancasila dapat ditetapkan sebagai dasar negara karena sistem nilainya mengakomodasi semua pandangan hidup dunia internasional tanpa mengorbankan kepribadian bangsa Indonesia.

Ideologi Pancasila, sekali lagi, bukan berdasarkan atas faham liberalisme ataupun sosialisme-komunisme, serta bukan hasil kawinannya keduanya. Dalam Pancasila terkandung nilai-nilai universal yang berlaku bagi semua bangsa di dunia. Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung makna bahwa pada umumnya manusia Indonesia bertuhan sesuai dengan agama yang dianutnya. Semua agama mengajarkan bahwa alam semesta beserta segenap hal yang eksis didalamnya, yang tak terhingga jumlahnya, adalah ciptaan Tuhan. Untuk selanjudnya, tiap hal yang eksis dalam alam semesta saya lekati sebutan “fenomen”. Dalam alam semesta ada fenomen yang permanen dan ada yang durasi eksistensinya terbatas. Dalam pengertian ruang-waktu yang terbentang sekaligus berlangsung tak terhingga dalam alam semesta, setiap fenomen niscaya mengokupsi volume ruang tertentu dan sekaligus mengokupsi selama eksistensinya.

Konsep MEAS yang terkandung di dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengungkapkan pengetahuan yang berkualitas sebagai tesis-ontologik pada nalar kita. Ada tiga tesis ontologik terungkap dari MEAS, yaitu :

1. Dalam alam semesta, tidak ada satu fenomenpun yang mandiri berdiri sendiri, terlepas dari fenomen lain.

2. Ada itu memberi; sama benarnya dengan pernyataan “tidak ada itu tidak memberi” memang sesuatu yang tidak ada tidak mungkin memberi. Jadi, “ada itu memberi” adalah evidensi.

3. Suatu pendapat adalah benar, hanya apabila ia bersesuaian dengan segenap relasi yang berkaitan dengannya; apabila tidak, maka ia nir-benar.

Sesungguhnya, tesis pertama dan tesis kedua adalah sekedar usaha pembedaan dua aspek dari satu tesis yang utuh dan tunggal. Tesis tunggal itu berkatogori sebagai teori tentang eksistensi (the theory of existence). Dalam hal ini : eksistensi dari semua hal yang ada dalam alam-semesta adalah berkat adanya relasi antarpasangan fenomen yang ekuivalen satu sama lain; dan relasi itu dalam wujudnya sebagai interaksi antarpasangan fenomen yang beralasi saling-tergantung, niscaya berkualitas tipikal saling-memberi.

MEAS yang menunjuk adanya relasi saling tergantung antar pasangan fenomen yang ekuivalen satu dengan yang lain, yang melalui proses interaksi saling-memberi yang berlangsung tak terhingga dalam ruang-waktu yang tak terhingga, membentuk alam semesta, diungkapkan oleh Tesis Ontologik Pertama sebagai teori tentang eksistensi (the theory of existence); berkualitas saling-memberi, diungkapkan oleh Tesis Ontologik Kedua, sebagai teori tentang “ada’ (the theory of being); Tesis Ontologik ketiga menunjuk pada teori tentang kebenaran (the theory of trutb), teralir berturut-turut secara transitif dari tesis ontologik pertama dan kedua.

Tiga tesis ontogik ini, seperti yang akan kita ketahui bersamaam waktu dengan kefahaman kita mengenai serba konsep yang terkandung di dalam empat sila lainnya dari Pancasila, berfungsi sebagai “principles we judge by” (meminjam ungkapan dari J.D. Mortimer, dalam bukunya Six Great ideas, Macmillan Publishing Co. INC, New York, 1981). Untuk mengetahui ada tidaknya relasi mantik antar konsep yang terkandung dalam tiap sila dan antar konsep antar sila. Pancasila sebagai suatu sistem filsafat, seharusnya relasi mantik itu ada dalam dirinya. Apabila terbukti benar demikian, maka Tiga Tesis Ontologik ini adalah konsep-raya ontologik (Padanan dari the grand ontological concept) yang terkandung di dalam Pancasila dalam kualitasnya sebagai filsafat.

Misalnya, bukankah semua umat manusia di dunia mengakui adanya Tuhan sebagai kekuatan supranatural yang berada di luar jangkauan kekuatan manusia? Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, semua persoalan umat manusia di dunia yang menyangkut persamaan hak dan kewajiban baik antar pribadi, hubungan antara warga negara dengan negara maupun hubungan antar negara. Faham atau lonsep mengenai manusia ini, mengandung makna ontologik bahwa antar manusia terjalin oleh relasi saling tergantung. Relasi saling-tergantung antarsubyek ini mengungkapkan sendiri kepada nalar manusia bahwa interaksi antarpasangan manusia yang berelasi ekuivalensi demikian juga antarpasangan fenomen jenis yang manapun niscaya berkualitas tipikal : saling-memberi. Interaksi saling-memberi ini menunjukan pada faham yang presuppased ada dan mendahuluinya, yaitu : tugas hidup manusia adalah apriori memberi kepada lingkungan.

Hanya manusia selaku pelaku-sadar yang mampu aktif berprakarsa melaksanakan kewajiban memberi kepada lingkungan. Berkenaan dengan itu, makna dari ungkapan “yang adil” dalam kaitannya dengan “yang beradab” adalah : hanya manusia-subyek yang melaksanakan kewajiban memberi kepada lingkungannya saja yang sewajarnya mendapatkan hak, sebagai menifestasi dari hakekat manusia selaku makhluk individu. Sebaliknya manusia yang tidak melaksanakan kewajiban memberi kepada lingkungan, sesuai dengan Tesis Ontologik II, ia menghapus dirinya sebagai subyek, hapus kualitasnya sebagai subyek penerima hak.

Fungsi dari interaksi antara kewajiban dan hak antarpasangan subyek jamak adalah kondisi keadilan dalam arti luas bagi para subyeknya. Tergantung pada haluan yang terkandung di dalam koordinat-organik yang bersangkutan. Makna dari ungkapan “yang beradab” dalam kaitannya dengan “yang adli” adalah : bahwa keadilan itu intersubyektif, yaitu subyeknya jamak, sebagai manifestasi dari hakekat manusia sebagai makhluk sosial.

Sila ketiga, persatuan Indonesia, Pada waktu kita kita menemukan konsep MEAS yang terkandung di dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa, kita temukan pula di dalam sub-konsep rakitan-organik yang integral. Rakitan inilah yang dipahamkan sebagai fenomen yang bersosok persatuan. Persatuan antara sejumlah fenomen yang berelasi ekuivalensi yang terbentuk oleh interaksi saling-memberi antarmereka. Persatuannya mengatualkan diri sebagai jenjang baru yang berperilaku sesuai dengan relasi kendali asimetrik yang diembannya, yang berfungsi terpeliharanya kelangsungan interaksi saling-memberi antarfenomen pembentuk dirinya.

Dari realitas alami yang berlangsung dalam alam semesta ini, kita mendapat pengetahuan yang berkualitas dengan konsep ontologik tentang kebersamaan hidup antarmanusia beserta lingkungan; baik yang mengaktualkan diri sebagai kehidupan bermasyarakat maupun kehidupan bernegara, yaitu ; (1) persatuan itu tercipta oleh interaksi saling-memberi antar sejumlah fenomen yang berada di jenjang bawah, dan (2) sekali suatu jenjang atas terbentuk, ia secara alami terembani dengan relasi kendali asimetrik sebagai wibawa yang pas-persis kadarnya seperti relasi berpasangan pribahasa Minang di tinggikan seranting ditinggikan selangkah untuk memelihara persatuan. Dengan kata lain, persatuan itu terbentuk dan selanjutnya terpelihara oleh interaksi timbal balik antara fenomen yang berada pada jenjang bawah dan yang berada pada jenjang bawah dan yang berada pada jenjang satu tingkat diatasnya. Perlu segera kita catat dengan seksama bahwa relasi-kendali asimetrik adalah energi yang pas-persis bagi eksistensi semua hal, termasuk eksistensi alam semesta itu sendiri. Akhirnya loyalitas umat manusia seplanit bumi tertuju pada alam semesta ciptaan Tuhan; dengan ungkapan lain: loyalitas manusia pada lingkungan berpucuk diloyalitas pada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai loyalitas omeganya.

Sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan permusyawaratan/perwakilan, kerakyatan adalah pengabstrakan dari kata-dasar rakyat. Apabila arti “rakyat” adalah suatu concretus yang berwujud sejumlah banyak orang yang secara spesifik berstatus sebagai warga negara dari suatu negara, maka “kerakyatan” menunjuk pada sifat-sifat alami yang melekat pada rakyat. Dengan merujuk pada hakikat manusia yang telah diungkapkan oleh sila kemanusiaan yang adil dan beradab, yaitu manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial, sifat-sifat alami yang melekat pada kepribadian rakyat adalah: kepekaan dalam berasa, berpikir, bersikap, dan kesediaan berbuat, sesuai dengan keinsyafan keadilan rakyat, inilah makna hakiki dari kerakyatan.

‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan’ sebagai predikat dari ‘kerakyatan’ menunjuk pada faham demokrasi; sedangkan predikat termaksud sebagai dirinya sendiri menunjuk pada prosedur demokratik pengambilan putusan. Sebagai faham demokrasi : Merujuk pada konsep ontologik tentang kebersamaan hidup antarmanusia beserta lingkungannya, yaitu : (1) persatuan dalam hal ini berwujud negara beserta sistem pemerintahannya terbentuk oleh interaksi saling-memberi antargolongan rakyat yang alami maupun yang diorganisasi, yang berada dijenjang infra-struktur, dan (2) sekali jenjang supra-struktur yang berwujud negara beserta pemerintahannya terbentuk, ia terembani dengan relasi kendali a-simetrik sebagai wibawa untuk memelihara kelangsungan interaksi saling- memberi antarkomponen rakyat yang berada pada jenjang infrastruktur, maka ‘kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan’ sebagai faham demokrasi menunjuk pada faham: sistem pemerintahan dari-oleh-untuk rakyat dengan tujuan terwujudnya keinsyafan keadilan rakyat, melalui proses yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Menunjukan dua sisi yang tidak saling bertentangan. Bahwa internasionalisme dibangun atas dasar kesadaran nasionalisme yang ada pada setiap warga negara. Soekarno menegaskan bahwa internasionalisme hanya dapat tumbuh subur di atas tanah nasionalisme. Kedua sila tersebut juga menghendaki hubungan kesetaran antar setiap bangsa di dunia yang berlandaskan saling menghargai dan menghormati kedaulatan negara masing-masing. Keduanya secara jelas menolak keras setiap upaya kolonialisme dan imperialisme.

Sila kelima, keadilan sosial, konsep universal yang terkandung didalam Sila Keadilan sosial (bagi seluruh rakyat indonesia) adalah : keadilan adalah produk dari interaksi antarsubyek; bukan barang-jadi (ready-made thing) yang berstatus sebagai hak bawaan dari tiap individu manusia sejak ia dilahirkan. Konsep yang mendasari keadilan adalah keseimbangan antara kewajiban dan hak. Berpanggahan dengan pengakuan ontologik yang telah diidentifikasi di muka, yaitu: bahwa antar manusia terjalin relasi saling-tergantung, maka subyek dari keseimbangan antara kewajiban dan hak adalah jamak.

Dalam kerangka pemikiran inilah terungkap konsep Pancasila mengenai kewajiban dan hak manusia (KHM). Dari interaksi saling-memberi antarsubyek jamak , terungkaplah pengertian hak, yaitu: hak seseorang adalah hasil terlaksananya kewajiban orang lain yang berelasi ekuivalen dengannya. Dengan ungkapan lain, hak adalah derivat dari kewajiban.

Yang khas faham keadilan menurut faham Pancasila adalah: (1) subyeknya jamak yang berinteraksi secara berpasangan (2) bahan baku dari keadilan adalah hasil tunaian kewajiban memberi dari para subyek; (3) keadilannya bersifat fungsional, (4) dengan terjadinya transformasi kewajiban menjadi hak antarpasangan subyek yang jamak, melalui relasi satu-banyak, keadilan sosial terwujud. Jelas mengambarkan kehidupan yang sejahteraan bagi setiap warga dunia.

Sesungguhnya, Pancasila bukan hanya sekedar fondasi nasional negara Indonesia, tetapi berlaku universal bagi semua komunitas dunia internasional. Kelima sila dalam Pancasila telah memberikan arah bagi setiap perjalanan bangsa-bangsa di dunia dengan nilai-nilai yang berlaku universal. Tanpa membedakan ras, warna kulit, agama, setiap negara selaku warga dunia dapat menjalankan Pancasila dengan teramat mudah. Jika demikian, maka cita-cita dunia mencapai keadaan aman, damai, dan sejahtera, bukan lagi sebagai sebuah keniscayaan, tetapi sebuah kenyataan. Mengapa? Karena cita-cita Pancasila sangat sesuai dengan dambaan dan cita-cita masyarakat dunia. Bukankah kondisi dunia yang serba carut-marut seperti sekarang ini diakibatkan oleh faham-faham diluar Pancasila? Bukankah secara de fakto faham komunisme telah gagal dalam memberikan – kedamaian dan kesejahteraan bagi rakyat Uni Soviet?. Bukankah faham liberalisme banyak mendapat tantangan dari negara-negara berkembang?

Era globalisasi kiranya menjadi momentum yang sangat baik guna membangun tatanan dunia baru yang terlepas dari hingar-bingar perang dan kekerasan. Saat ini menjadi momentum yang sangat berharga bagi semua warga dunia untuk menghilangkan chauvinisme dan mengarahkan pandangan kepada Pancasila. Bahwa nilai-nilai luhur Pancasila yang taken for granted dapat menciptakan kondisi dunia menuju suasana yang aman, damai dan sejahtera. Dunia menjadi aman, sesuai nilai Pancasila, karena setiap negara di dunia menghargai dan menghormati kedaulatan setiap negara lain. Kedamaian dunia tercipta, karena Pancasila sangat menentang keras peperangan dan setiap tindak kekerasan dari satu negara kepada negara lain. Dan, kesejahteraan dunia bisa tercapai, sesuai nilai-nilai Pancasila, karena kesetaraan setiap negara di dunia sangat membuka peluang kerja sama antar negara dalam suasana yang tulus, tidak dalam sikap saling curiga, serta tidak saling memusuhi.

CARA – CARA UNTUK MENYIKAPINYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT :

1. Dalam perkembangan dunia yang serba modern seperti saat ini bangsa Indonesia dihadapkan dengan tantangan yang semakin besar dan kompleks sejalan dengan semakin derasnya arus perubahan dan kuatnya dampak globalisasi. Kondisi tersebut-mau tidak mau dan suka tidak suka – dapat berarkibat negatif terhadap cara pandang bangsa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Benteng terkuat untuk menangkal segala bentuk baik ancaman maupun pandangan yang dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan bangsa tersebut tentu dengan tetap berpegang teguh pada pandangan hidup bangsa Indonesia.

2. Sejatinya, perubahan sosial yang terjadi akibat globalisasi dipandang sebagai upaya bangsa untuk mengembangkan kepribadiannya sendiri melalui penyesuaian dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat modern. Atau dengan kata lain, dengan kepribadiannya sendiri, bangsa dan negara Indonesia berani menyongsong dan memandang pergaulan dunia. Tetapi, kendati hidup di antara pergaulan dunia, bangsa dan negara Indonesia tak mesti kehilangan jati diri.

3. Nilai-nilai Pancasila yang bersifat universal dapat diterima sebagai pedoman bagi segala tindakan dan perilaku negara-negara di dunia. Pasalnya, nilai-nilai Pancasila relevan dengan segala situasi dan kondisi di dunia hingga kapanpun. Apalagi Pancasila lahir dan dikembangkan dalam suasana perjuangan dan pemikiran panjang dari perjalanan bangsa Indonesia. Pancasila juga tidak memihak dan bukan bagian dari faham liberal ataupun faham sosialis yang banyak menimbulkan kesengsaraan bagi dunia. Selain itu, nilai-nilai Pancasila memandang kesetaraan setiap bangsa di dunia.

4. Era globalisasi kiranya menjadi momentum yang sangat baik guna membangun tatanan dunia baru yang terlepas dari hingar-bingar perang dan kekerasan. Dunia menjadi aman, sesuai nilai Pancasila, karena setiap negara di dunia menghargai dan menghormati kedaulatan setiap negara lain. Kedamaian dunia tercipta, karena Pancasila sangat menentang keras peperangan dan setiap tindak kekerasan dari satu negara kepada negara lain. Dan, kesejahteraan dunia bisa tercapai, sesuai nilai-nilai Pancasila, karena kesetaraan setiap negara di dunia sangat membuka peluang kerja sama antar negara dalam suasana yang tulus, tidak dalam sikap saling curiga, serta tidak saling memusuhi.

Posted in umum | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment